Rumah Tahfizh

Dzuhrona Mafaza

  • Beasiswa TerkumpulRp 0
  • Target PerbulanRp 1.000.000

0%



Tentang Saya

Dzuhrona Mafaza, menjadi Hamilul Qur’an Hingga Akhir Hayat

Setelah lulus dari MAN 1 Malang, Dzuhrona Mafaza mengambil keputusan besar dalam hidupnya. Ia mantap menjadi santriwati Rumah Tahfidz Daarul Qur’an Putri di Kepuh, Malang. Keputusan besar Dzuhrona nampaknya menjadi keputusan tepat. Di Rumah Tahfidz ia bisa menerima banyak hal: menghafal Al Qur’an, pengajian kitab, masak bersama, dan menjaga shalat berjama’ah.

“Selain kegiatan rutinan tersebut, saya juga wajib membagi waktu untuk membuat setoran baru”, cetus Putri Bapak Hasan Basri ini.

Dzuhrona bercerita, menjadi santri di Rumah Tahfdiz banyak suka-dukanya. Ia merasa sangat bahagia saat melakukan segala sesuatu secara bersama dengan santri lainnya dan setoran hafalan lancar. Sedangkan duka baginya saat setoran baru tidak bertambah, muroja’ah kacau, dan menemui ayat-ayat yang sulit untuk dihafal. “Butuh kesabaraaan ekstra dalam menghafal”, ungkapnya.

Dzuhrona memiliki tips tersendiri dalam menghafal. Ia menjelaskan untuk setiap ayat dibaca 25 kali. Sedang muroja’ah hafalan biasanya dibaca dalam keadaan shalat. “Berkat kesabaran itu Alhamdulilah sekarang saya sudah memegang hafalan 19 juz yang mutqin (lancar)”, tuturnya dengan sumringah.

Menjadi hafidzhoh adalah satu-satunya cara Dzuhrona dapat memberikan mahkota untuk kedua orangtua dan memberikan kebahagiaan dunia-akhirat bagi mereka. Orangtua tidak hanya menjadi pembimbing, pendamping, dan “sahabat” baginya, tapi orangtua juga menjadi motivasi terbesar dalam menghafal.

Alasan lain meghafal Al Qur’an adalah ingin mewujudkan mimpi orangtuanya mempunyai keturunan hamilul qur’an, serta menjadi kekasih Allah bi syafa’ati qur’an.

Dzuhrona menegaskan, inspirator terbesarnya adalah Rasulullah SAW dan kedua orang tua. Rasulullah untuk perjuangan akhirat melalui agama islam. Sedangkan orangtua, untuk perjuangan hidupnya yang menjadikan dirinya sebagai penghafal Al Qur’an. “Saat berdo’a untuk orangtua biasanya saya menangis”, ungkap Dzuhrona sembari tersendu mengingat perjuangan dan kasih sayang orangtuanya.

Harapan besar yang segera ingin diwujudkan saat ini, ia ingin bisa mendapatkan syahadah dari Umi Fitri (ustadzah). Dan pastinya, cita-cita yang selalu ia genggam dan ikhtiarkan adalah ingin menjadi hamilul Qur’an hingga akhir hayat, pungkasnya.

Wali Santri

Santri Terbaik

Muhammad Fachri Chumaidi
  • Pesantren Takhassus Cimanggis

Abd. Rahman A. Alhasib
  • Pesantren Takhassus Cinagara

Abdi Saputra
  • Pesantren Takhassus Cinagara


Santri Lainnya